<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-24380841-2']);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script><?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Notes of Ishak</title>
	<atom:link href="http://ishaki.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ishaki.net</link>
	<description>Belajar dan berbagi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Oct 2012 22:41:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sang Istri</title>
		<link>http://ishaki.net/?p=53</link>
		<comments>http://ishaki.net/?p=53#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 22:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ishak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ishaki.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ust. Mohammad Fauzil Adhim Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: <em>Ust. Mohammad Fauzil Adhim</em></em></p>
<p>Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda.<br />
Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi. Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya. Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia? Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.</p>
<p>Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit. Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.</p>
<p>Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang<br />
dipecahkan. Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang. Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.</p>
<p>Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.</p>
<p>Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,&#8221;ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?&#8221; Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan. Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih.</p>
<p>Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan kepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah,<br />
semua perilakunya menakjubkan bagiku”.</p>
<p>Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku<br />
wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.</p>
<p><em>Sumber: <a href="https://www.facebook.com/febby.kemala/posts/4694604372759">Dari sebuah notes di jejaring sosial</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ishaki.net/?feed=rss2&#038;p=53</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima kasih, Sayang</title>
		<link>http://ishaki.net/?p=43</link>
		<comments>http://ishaki.net/?p=43#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 22:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ishak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ishaki.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Sudahkah engkau berterima kasih kepada isterimu hari ini? Kalau belum, tengoklah sejenak perjalananmu dari semenjak bangun tidur hingga saat engkau baca tulisan ini. Ingatlah kembali kebaikan-kebaikan isterimu, baik yang engkau anggap sebagai kebaikan maupun yang engkau anggap sewajarnya ada. Ingatlah sejenak, betapa hampir-hampir tidak ada satu hari pun yang kita lewati kecuali di sana ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudahkah engkau berterima kasih kepada isterimu hari ini? Kalau belum, tengoklah sejenak perjalananmu dari semenjak bangun tidur hingga saat engkau baca tulisan ini. Ingatlah kembali kebaikan-kebaikan isterimu, baik yang engkau anggap sebagai kebaikan maupun yang engkau anggap sewajarnya ada. Ingatlah sejenak, betapa hampir-hampir tidak ada satu hari pun yang kita lewati kecuali di sana ada kebaikan-kebaikan isteri yang tak cukup kita balas hanya dengan ucapan terima kasih. Kalau masih saja engkau tak menemukan apa yang dapat membuatmu berterima kasih kepada isteri, tangisilah! Boleh jadi kerasnya hati (atau jangan-jangan hatimu sudah mati?) yang menyebabkan engkau tak sanggup menangkap kebaikan-kebaikannya. Padahal, sejudes apa pun isterimu –barangkali—pasti ada padanya kebaikan. Jika tidak, lalu apa yang menyebabkanmu memilihnya?</p>
<p><span id="more-43"></span>Boleh jadi engkau mengenal dia sebelumnya karena kebahagiaan perkawinan memang tidak berhubungan dengan seberapa kenal kita dengan orang yang akan kita nikahi. Tetapi bukan­kah ada yang membuatmu memilihnya? Mungkin karena rupa (ah…, kalau ini memang cepat sirna), mungkin juga karena sesuatu yang lebih tinggi nilainya; karena akhlaknya yang baik atau karena agamanya yang lurus.</p>
<p>Jika memang ada yang membuatmu untuk tergerak memilih, atau mengiyakan tawaran yang datang kepadamu, lalu apakah yang membuatmu sulit untuk sekedar mengucapkan terima kasih? Ataukah karena ada sesuatu yang menyakitkan hatimu darinya saat ini? Ataukah ada tindakannya yang tidak engkau sukai? Atau lebih dari itu, ada perkara yang membuatmu bu­kan saja tidak menyukai tindakannya, tetapi bahkan engkau berubah tidak menyukai dirinya?</p>
<p>Kalau itu yang membuat nyala api cinta mengecil di rumahmu, ingatlah sejenak ketika Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’anul Kariim, kitab yang tak ada keraguan di dalamnya. Kata Allah, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata . Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’, 4: 19).</p>
<p>Tidakkah engkau lihat di sana? Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Betapa luas ilmu Allah dan betapa sempit pandangan kita. Apa yang kita pikirkan dan rasakan dari isteri kita kerapkali bukan karena pengenalan yang baik terhadapnya, meski kita merasa telah mengenalnya luar dalam. Kadang kita mengenal dia dengan sebaik-baik pengenalan. Padahal yang lebih banyak bermain dalam pikiran dan perasaan kita adalah keinginan yang kadang bersambut kadang tidak, suasana hati yang kadang stabil kadang tidak, hasrat yang kadang meletup-letup kadang tenang, pengalaman yang kadang sangat kita yakini kebenarannya meski sangat besar kesalahannya. Betapa banyak orang yang menjadikan pengalaman sebagai “hukum” dalam bertindak tanpa mencoba menelusuri prinsip-prinsip yang ada di balik pengalamannya. Padahal sekian banyak orang mempunyai pengalaman yang berbeda.</p>
<p>Benar, ada peribahasa historia vitae magistra. Pengalaman adalah guru kehidupan yang paling baik. Tetapi menyimpulkan begitu saja apa yang kita alami sebagai kepastian adalah kekeliruan yang membuat kita tak bisa mengambil pelajaran. Itu sebabnya saya sering berkata, tidak penting apa pengalaman kita. Tidak penting pula fakta yang ada pada kita. Jauh lebih penting adalah menangkap prinsip-prinsip di balik fakta dan pengalaman itu. Jika tidak mampu, berpikir positif dengan berusaha mencari kebaikan yang bisa kita raih dan lakukan akan jauh lebih bermanfaat.</p>
<p>Saya teringat dengan sebuah seminar. Ketika itu saya bertutur tentang keutamaan menikah dini dan apa yang harus kita lakukan agar pernikahan dini itu mendatangkan kebaikan serta kebahagiaan. Saya ingin menghadirkan perbincangan tentang manfaat menikah dini sekaligus bagaimana meraihnya. Di dalamnya sebenarnya telah memuat prinsip-prinsip untuk meraih keindahan nikah dini, antara lain harus merupakan pilihan sadar dan berbekal ilmu. Tetapi seorang pembicara tiba-tiba dengan sengit membantah. Bukan dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan prinsip yang ajukan apabila ia menemukan kekeliruan di dalamnya, melainkan menunjukkan pengalaman temannya yang tidak sukses menikah dini.</p>
<p>Sesungguhnya, ini merupakan kesimpulan yang sangat gegabah. Jika tetangga kita mati setelah makan sebiji apel, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa apel merupakan buah yang mematikan meski ada fakta bahwa tetangga kita mati. Kesimpulan ini tidak memadai sebab tidak didukung penggalian yang mendalam tentang what’s behind the fact. Apa yang ada di balik fakta.</p>
<p>Uff…! Saya tidak akan berpanjang-panjang berbincang tentang pengambilan kesimpulan yang tepat dalam berseminar. Saya hanya ingin mengajak engkau untuk lebih banyak membuka ruang di jiwamu. Kalau sekali waktu engkau lihat isterimu tidak menampakkan wajah cerah di hadapanmu di saat engkau sedang penat-penatnya, maka ambillah waktu sejenak. Kenangkanlah betapa banyak kebaikan yang telah ia lakukan untukmu agar dapat engkau rasakan betapa baik ia bagimu.</p>
<p>Sejauh ia tidak berkhianat atas amanah yang Allah berikan kepadanya, rasa-rasanya hampir tak pernah ada alasan bagi kita untuk melupakan terima kasih kepadanya. Apakah engkau mengira bahwa hidangan sederhana ia suguhkan kepadamu adalah perkara biasa-biasa saja? Tidak. Sungguh, tidaklah segelas minuman hadir kepadamu begitu saja kecuali karena di dalamnya ada cinta, perhatian, ketulusan dan kasih-sayang. Pada sesendok gula yang ia tuangkan saat menyeduh kopi untukmu, di sana ada cinta dan perhatian. Pada kepekaannya menyiapkan minuman untukmu di pagi hari, di sana ada ketulusan. Setidak-tidaknya, andaikan pun itu semua tidak ada pada dirinya, tetap ada satu hal yang membuat engkau tetap perlu mengucapkan terima kasih yang tulus kepadanya. Satu hal itu adalah: ia masih menghormatimu. Tidak merendahkan.</p>
<p>Maka, alasan apa lagikah yang membuatmu sulit sekedar untuk mengucapkan terima kasih kepadanya?</p>
<p>Sungguh, aku lihat tak ada halangan bagi seorang suami mengucapkan terima kasih yang tulus, atau bila perlu mencium tangan, kening atau sekedar pelukan ringan baginya kecuali karena kerasnya hati atau gersangnya jiwa dari kasih-sayang. Tak ada halangan bagi kita untuk meminta maaf kepada isteri, kecuali karena tingginya hati dan angkuhnya jiwa. Ada nikmat yang berlimpah pada kita, tetapi kita lupa bersyukur kepada Allah.</p>
<p>Bukankah berterima kasih kepada manusia adalah salah satu jalan untuk bersyukur kepada-Nya? Dan manusia yang paling dekat dengan kita sesudah orangtua dan anak adalah isteri kita sendiri.</p>
<p>Tentang syukur ini, mari kita ingat sejenak ketika Rasulullah saw. bersabda, “Yang paling bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai berterima kasih kepada manusia.” (HR. ath-Thabrani).</p>
<p>Apakah buahnya syukur? Nikmat yang bertambah-tambah. Bukan isteri yang bertambah, tetapi makna kehadirannya di sisi kita yang bertambah. Itu sebabnya, kadang ketika ada yang datang mengeluhkan perkawinannya yang hambar, saya menyarankan kepadanya untuk membuat daftar yang harus terisi setiap hari. Daftar itu terdiri dari dua kolom. Tidak boleh lebih. Satu kolom berbunyi “kebaikan isteri (suami) saya hari ini” dan satu kolom lagi “kesalahan dan keburukan saya hari ini”.</p>
<p>Setiap hari, kedua kolom tersebut harus ada isinya. Bukan keberhasilan kalau pada kolom “kesalahan dan keburukan saya hari ini” tidak ada isinya sama sekali. Begitu juga, bukan buruk isteri kita kalau kita tidak mampu mengisi kolom “kebaikan isteri saya hari ini”. Sama sekali bukan. Kosongnya isian justru menandakan harus ada yang kita perbaiki pada diri kita. Barangkali kita sudah terlalu angkuh pada diri kita sendiri sehingga tak sanggup menemukan kekurangan diri sendiri dan pada saat yang sama kebaikan isteri kita.</p>
<p>Tentu saja saya tidak berharap kita sampai harus membuat daftar seperti itu, sekalipun tidak ada salahnya kita melakukan. Saya berharap masing-masing kita senantiasa menemukan makna atas hadirnya isteri di samping kita. Tidak hampa. Salah satu jalannya adalah mensyukuri kehadirannya dengan berterima kasih.</p>
<p>Nah, sudahkah engkau berterima kasih kepadanya hari ini?</p>
<p><em>Tulisan ini adalah tulisan dari Ust. Mohammad Fauzil Adhim yang dipublish <a title="Terima kasih, Sayang....." href="https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/terima-kasih-sayang/284552388260563" target="_blank">disini</a>. Sengaja saya replikasi kesini, dengan harapan lebih banyak yang membacanya. semoga kita memetik hikmah darinya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ishaki.net/?feed=rss2&#038;p=43</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insert Users from CSV file to Sharepoint Group</title>
		<link>http://ishaki.net/?p=32</link>
		<comments>http://ishaki.net/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 03:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ishak</dc:creator>
				<category><![CDATA[PowerShell]]></category>
		<category><![CDATA[Sharepoint 2010]]></category>
		<category><![CDATA[CSV]]></category>
		<category><![CDATA[Sharepoint]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ishaki.net/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Sometime, we need to add more than 10 user directly to our Sharepoint group. It&#8217;s tedious, if you want to insert it 1 by 1. There is easy way to do it. Yes, use powershell to insert. This is the script : function AddUser($userId) { Set-SPUser -Identity $userId -Web http://ishaki-sp.net -Group &#8216;MyGroup1&#8242; } $UserList=IMPORT-CSV D:\User\UserToUpload.csv [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sometime, we need to add more than 10 user directly to our Sharepoint group. It&#8217;s tedious, if you want to insert it 1 by 1. There is easy way to do it. Yes, use powershell to insert. This is the script :</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #0000ff;">function AddUser($userId)</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> {</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> Set-SPUser -Identity $userId -Web http://ishaki-sp.net -Group &#8216;MyGroup1&#8242;</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> }</span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #0000ff;">$UserList=IMPORT-CSV D:\User\UserToUpload.csv</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> foreach ($User in $UserList) {</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> AddUser($User.NTId)</span><br />
<span style="color: #0000ff;"> }</span></p>
<p> Happy scripting !!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ishaki.net/?feed=rss2&#038;p=32</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Export users to CSV file from Sharepoint 2010</title>
		<link>http://ishaki.net/?p=19</link>
		<comments>http://ishaki.net/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ishak</dc:creator>
				<category><![CDATA[PowerShell]]></category>
		<category><![CDATA[Sharepoint 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ishaki.net/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Untuk keperluan dokumentasi aplikasi, seringkali kita diminta untuk meng-eksport semua user yang ada dalam sharepoint site yg kita punya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, salah satunya adalah menggunakan PowerShell. Berikut contoh script yang bisa digunakan, yang akan menghasilkan sebuah CSV file berisi list group dan user. $site = Get-SPSite http://portal.ishaki.net $groups = $site.RootWeb.sitegroups ForEach-Object [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk keperluan dokumentasi aplikasi, seringkali kita diminta untuk meng-eksport semua user yang ada dalam sharepoint site yg kita punya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, salah satunya adalah menggunakan PowerShell. Berikut contoh script yang bisa digunakan, yang akan menghasilkan sebuah CSV file berisi list group dan user.</p>
<pre>$site = Get-SPSite http://portal.ishaki.net
$groups = $site.RootWeb.sitegroups
ForEach-Object -begin { "Group,NTId,Name" } -process {
foreach ($grp in $groups) {</pre>
<pre>  foreach ($user in $grp.users){ $grp.name + "," + $user +","+ $user.name}}</pre>
<pre>} | Out-File UserAndGroup.csv -Encoding ascii -Force
$site.Dispose()</pre>
<p>Selamat mencoba. Happy PowerShell <img src='http://ishaki.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ishaki.net/?feed=rss2&#038;p=19</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
